20 Sepeda Motor Terlaris di Awal 2017

Penjualan sepeda motor Tanah Air pada pembukaan tahun (Januari 2017), menunjukkan hasil positif, naik 13,84 persen menjadi 473.879 unit year on year 2016. Walaupun demikian, angka ini belum melampaui pencapaian pada 2015, yang sebanyak 502.783 unit (Januari 2015).

Per Januari 2017, tercatat hampir 100 model sepeda motor dipasarkan di Indonesia, sesuai data distribusi Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI). Dari 20 besar peringkat motor terlaris Januari 2017 yang dirangkum KompasOtomotif, empat teratas dikuasai oleh merek Honda.

Posisi paling puncak ditempati oleh Skutik Honda Beat Series, dengan kubikasi 110 cc. Sepanjang Januari 2017, distribusinya mencapai angka 173.438 unit, naik 30,67 persen jika dibanding bulan pertama 2016.

Facelift dan juga penambahan varian bisa jadi salah satu perangsang penjualan Beat yang melonjak signifikan. Masih dari merek Honda, posisi kedua ditempati oleh New Vario 125 eSP dengan mencapai angka 50.380 unit, atau tumbuh 22,2 persen.

Selanjutnya, tiga dan empat, masing-masing ada Scoopy eSp 110 cc (47.927 unit), kemudian dari keluarga Vario, tetapi dengan ukuran mesin 150 cc, sebanyak 39.269 unit. Baru kemudian pada posisi kelima ada andalan Yamaha, Mio M3 125, yang mencapai 31.023 unit, dan di belakangnya ada Skutik bongsor N-Max (19.491 unit).

Mewakili kelas sepeda motor bebek, Revo jadi model yang masuk di sepuluh besar, sekaligus sebagai bebek yang paling banyak terjual, dengan jumlah 13.773 unit. Hasil ini positif karena naik sebesar 35, 89 persen. Lalu dari sport ada CB 150 R Street Fire 150 di posisi ke-10 (9.906 unit), dan menempel ketat persis di belakangnya ada New V-ixion 150 (9.259 unit).

Berikut daftar 20 besar sepeda motor paling laris di 2017.

Lewat Cukai Otomotif, Peredaran Kendaraan Bermotor Bakal Diawasi

Produk otomotif seperti mobil atau sepeda motor, diwacanakan untuk tidak lagi dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), tetapi digantikan dengan cukai. Walaupun masih sebatas kajian, bukan tidak mungkin ini bakal masuk proyek serius.

Berbeda dengan pajak, produk atau barang yang dikenakan cukai ternyata bakal terus diawasi peredarannya di lapangan. Sementara pajak dalam hal ini PPnBM, ketika kewajibannya sudah terpenuhi, langsung dilepas.

“PPnBM tidak ada pengawasan lagi, karena itu bukan barang kena cukai. Kalau barang kena cukai, begitu diproduksi, dikonsumsi dan disosialisasikan ke masyarakat masih dalam pengwasan Diektorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Seperti contohnya rokok, yang dikenakan cukai, jadi dari mulai produksi sampai dikonsumsi masih diawasi, itu bedanya PPnBM dan cukai,” ujar Sarno, Kepala Subbidang Cukai Badan Kebijakan Fiskal kepada KompasOtomotif, Rabu (8/2/2017).

Sarno melanjutkan, pemungutan dan pengawasan ini, bisa jadi sebuat potensi, ketika serius bakal ada perpindahan dari PPnBM (pajak) ke cukai. Pihak DJBC, juga nantinya (jika menjadi cukai otomotif), bisa melakukan inspeksi di lapangan untuk mobil dan sepeda motor.

“Jika terealisasi, maka akan dilekatkan tanda cukai atau pembayaran (entah di pelat nomor atau STNK). Di lapangan nantinya kami punya teman-teman bea cukai yang mengecek langsung distribusi dan  konsumsi barang kena cukai ini, bisa jadi juga akan ada inspeksi mendadak,” ucap Saro.

Bisa jadi, dengan pengawasan tambahan ini juga, peredaran mobil atau sepeda motor yang illegal bisa direduksi. Kewajiban DJBC untuk melakukan pengawasan, ada pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, pada pasal 2 ayat 1 huruf b.

“Pukulan Telak” CBR250RR buat Ninja250 dan R25

Kerja keras Honda hadirkan model global CBR250RR yang diproduksi lokal di dalam negeri mendapat respons positif pasar domestik. Hal itu juga memberikan jawaban pasti terhadap persaingan dengan rival sekelas, yakni Kawasaki Ninja250 dan Yamaha R25.

Sejak CBR250RR didistribusikan secara perdana pada November 2016, performa penjualan Kawasaki Ninja malah terus turun, mulai dari 1.177 unit (November 2016), kemudian melorot pada Desember 2016 menjadi 689 unit. Belum berhenti sampai di situ, pada Januari 2017, performanya kembali anjlok hingga 653 unit.


Ghulam/KompasOtomotif
Penjualan Sport fairing 250cc 2016 dan 2017.Namun, jika dibanding periode yang sama pada 2016 (Januari), distribusinya mencapai 1.195 unit, jadi merosot tajam sebesar 45,36 persen.
Kondisi serupa juga dialami Yamaha. Pada bulan pembuka 2017, perolehannya hanya 278 unit, ambles 48,23 persen dibanding Januari 2016.

Honda CBR250RR berhasil merebut pasar Kawasaki Ninja, dengan membukukan penjualan 1.408 unit pada Januari 2017. Jika dibanding dengan Desember 2016 (1.849 unit), memang pendapatannya menurun. Namun, untuk pendatang baru, ini angka yang cukup menarik.

Menariknya, Honda bukan hanya merebut kue Kawasaki Ninja250 dan Yamaha R25, tetapi juga memperluas pasar sport fairing 250cc. Januari tahun lalu, dengan hanya dua pemain, jumlahnya hanya 1.732 unit, sementara setelah ada CBR250RR, jumlahnya mencapai 2.339 unit pada Januari 2017.

Kabar terakhir datang dari Yamaha R25, yang disebutkan tengah menyiapkan model facelift-nya. Informasi serupa juga berlaku buat Kawasaki Ninja250cc yang penyegarannya tengah disiapkan. Pembaruan praktis dibutuhkan, jika kedua pemain ini tak mau terjebak pada cap model “jadul” ketimbang rival utama mereka, CBR250RR.

Suzuki Bantah Ertiga Pakai Diesel Milik Chevrolet Spin

Suzuki Ertiga Diesel resmi mengaspal di Tanah Air dengan teknologi hibrida ringan. Menariknya, ternyata kapasitas mesin Ertiga serupa dengan yang pernah digunakan Chevrolet Spin beberapa waktu lalu, yakni 1.300 cc variable-geometry turbochargers (VGT).

Lantas apakah benar bahwa mesin yang digunakan Ertiga diesel saat ini sama dengan Spin? Menanggapi pertanyaan ini, Marketing Director SIS 4W Donny Saputra, secara tegas menyatakan bahwa mesin ini merupakan pengembangan dari Suzuki sendiri.

“Saya pastikan mesin diesel Ertiga beda dengan mereka (Spin). Meski secara kapasitas sama, tapi soal teknologi beda, mesin ini Suzuki yang kembangkan, bukan menggunakan produk Amerika,” kata Donny di Bogor, Rabu (8/2/2017).

Selain mesin diesel, lanjut Donny, Ertiga juga memiliki fitur hibrida yang tidak dimiliki mantan kompetitornya. “Karena itu, saya berani jamin mesin ini bukan mesin mereka,” lanjut Donny menegaskan.
Stanly/KompasOtomotif
Mesin diesel Ertiga 1.300 cc

Donny juga memastikan bahwa Ertiga Diesel Hybrid tidak akan memiliki nasib seperti Spin. Seperti diketahui, sejak Chevrolet menutup pabrik di Bekasi, Spin pun sudah tidak diproduksi dan penjualannya tidak diteruskan di Indonesia.

“Sebelum meluncurkan produk kami selalu studi untuk melihat kebutuhan konsumen. Seperti yang saya bilang, secara fitur kami punya hybrid, ini yang membuat kami yakin bisa lebih sukses dibandingkan mereka (Chevrolet Spin),” kata Donny.

Akhir Perjalanan Dodge Viper

Setelah 25 tahun, akhirnya sepak terjang Dodge Viper akan dihentikan tahun ini. Dilansir dari Motor1, Dodge akan memproduksi generasi terakhir Viper pada 31 Agustus 2017 mendatang.

Untuk memeriahkan pesta pensiunnya, Dodge merilis enam model edisi terakhirnya. Mulai dari Viper 01:28 Edition ACR, Viper GTS-R Commemorative Edition ACR, Viper VoooDoo II Edition ACR, Viper Snakeskin Edition GTC, Viper ACR Snakeskin dan Dodge Dealer Edition ACR.

Semuanya berjumlah 100 unit, tapi jangan berharap untuk memiliki salah satunya, karena menurut Kepala Desain Fiat Chrysler Automobiles (FCA) Ralp Gilles, semuanya sudah ludes terpesan, tapi sayangnya tidak dijelaskan alasan kenapa Viper tidak diproduksi kembali.
Carscoops.Com
Dodge Viper

Semua Viper edisi terbatas dibuat menggunakan basis dari varian ACR yang merupakan versi tertinggi di keluarga Viper. Masing-masing model memiliki beberapa kelebihan tersendiri namun tetap dibekali dengan mesin yang sama, yakni V10 berkapasitas 8.400 cc.

Mesin buas tersebut mampu menyuplai tenaga sebesar 645 tk dengan torsi 813 Nm. Bahkan khusus untuk model ACR disediakan transmisi enam percepatan manual yang memungkinkan pengendara benar-benar menikmati sensasi performa di tiap tingkatan persenelingnya.

Sekilas Perbandingan Toyota Mirai dan Honda Clarity

Pada pandangan pertama, memilih antara mobil fuel cell (hidrogen) Toyota Mirai dan Honda Clarity nampaknya bisa jadi keputusan sulit. Pasalnya, kedua mobil ramah lingkungan tersebut terlihat mirip.

Mengutip Carscoops, Minggu (12/2/2017), terlepas dari penampilan mereka dan mulai turun ke spesifikasi lain, pembeda yang paling kentara kira-kira terkait driving range Honda lebih jauh, sekitar 50 mil (80 km).

Dari tabel yang disajikan, bisa dilihat kalau Toyota Mirai 2017 dan Honda Clarity 2017 memiliki dimensi yang berbeda tipis, performa yang juga tidak jauh berbeda. Lebih dari itu bobot dan harga juga sangat bersaing.


Carscoops
Toyota Mirai VS Toyota Clarity.
Beberapa perbedaan lain yang termasuk fakta, yaitu Clarity menghasilkan lebih banyak tenaga dibanding dengan Mirai, 174tk berbanding 151tk. Lalu mobil fuel cell Honda memiliki lima penumpang, sementara wakil Toyota dibangun untuk empat.

“Saya tidak berpikir kesamaan spesifikasi antara Mirai dan Clarity adalah kebetulan. Sifat teknologi bahan bakar hidrogen, setidaknya saat ini, dari model yang sudah ada dan baru memang seperti itu,” ujar Tom Blackman, Direktur Olathe Toyota Parts Center.

Namun Angel Vigil, Direktur Honda Parts Online berpikir, Clarity adalah mobil yang lebih baik. “Perbedaan jarak tempuh Clarity dengan pesaingnya sangat signifikan, karena memang saat ini masih langka pengisian bahan bakar hidrogen,” ujar Vigil.

Faktor Lain Anjloknya Pasar Kendaraan Niaga pada 2016

Selain kendaraan penumpang, 2016 juga menjadi tahun yang cukup suram untuk bisnis kendaraan niaga. Mitsubishi Fuso ikut merasakan lemasnya kondisi ekonomi hampir di semua sektor yang membuat penjualannya turun hingga 14,3 persen.

Kondisi ini makin parah saat perusahaan pembiayaan pun banyak yang menolak pengajuan kredit untuk kendaraan komersial. Director of MFTBC Marketing Division PT KTB Duljatmono, mengungkapkan hampir 95 persen kendaraan niaga dibeli secara kredit.

“Kendaraan otomotif sangat tergantung pada kredit lembaga keuangan, bukan hanya segmen penumpang kendaraan niaga juga begitu. Tahun lalu cukup berat, bisa dibayangkan saat banyak leasing yang menolak pembelian kendaraan komersial,” kata Duljatmono kepada wartawa di Jakarta, Jumat (10/2/2017).

Tahun lalu, lanjut Duljatmono, cukup berat karena potensi kredit bermasalah (non performing loan/NPL) cukup tinggi. Pihak leasing cukup berhati-hati dalam meberikan pembiayaan, karena itu kami juga ikut merasakan dampaknya.

“Kalau dilihat banyak pembangunan infrastruktur terbilang sepi, yang membuat khawatir itu kalau infrastruktur seret, ya kreditnya juga seret. Itu yang membuat mereka sangat hati-hati memberikan kredit kepada konsumen kendaraan niaga,” ujar Duljatmono.
KTB
Mitsubishi Fuso dalam pameran Indonesia Transport, Supply Chain & Logistics 2016.

Meski demikian, ia mengaku keadaan di akhir semster dua mulai berangsur pulih, hal ini ditunjukkan dengan proyek pembangunan yang mulai berjalan, sampai beberapa sektor komoditi yang bergerak. Kondisi ini menjadi titik terang untuk memulai potensi penjualan.

“Akhir 2016 sudah mulai membaik hingga saat ini, sehingga sudah ada dari leasing yang mulai memberi dukungan untuk pembiayaan,” kata pria yang akrap disapa Momon itu.

Triumph Indonesia Berusaha Eksis Lagi

Lama tak ada aktivitas, Triumph di Indonesia mulai ”kasak-kusuk” lagi. Bisa disebut inilah salah satu aktivitas perdana merek asal Inggris itu sejak pergantian agen, dari PT Triumph Motorcycle Indonesia (TMI) ke PT Garda Andalan Selaras (GAS) sejak pertengahan tahun lalu.

Aktivitas perdana itu berupa touring bertajuk ”West Java Ride Countdown to Return”, mengajak pelanggan setia, dilaksakana pada 10-12 Februari 2017.

Rombongan terdiri dari 27 motor, menggunakan berbagai varian Triumph seperti Thruxton, Tiger XR, Tiger, dan Bonneville. Turing dimulai dari Ciwidey, Jawa Barat, untuk selanjutnya menuju Selatan dan finish di kota Bandung.

”Ini merupakan agenda rutin yang dilakukan untuk mengajak pemilik motor Triumph bersilaturahmi dan saling mengenal sehingga menjadi lebih akrab. Rute-rute yang dilewati peserta juga menarik dengan berbagai lintasan yang sesuai dengan karakter motor Triumph,” ujar Hari Triadji Presiden Direktur GAS.

Demi menambah keseruan riding ”West Java Ride Countdown to Return”, seluruh peserta juga diajak melakukan kegiatan Sunday Morning Ride dengan mengitari kota Bandung, Minggu (12/2/2017) pagi sebelum kembali ke Jakarta siang harinya.

GAS resmi menjadi distributor resmi merek Triumph Motorcycles di Indonesia terhitung sejak 30 Agustus 2016 silam dan akan melayani seluruh pemakai motor Triumph di Indonesia. Saat ini layanan aftersales sudah beroperasi dan mampu menerima layanan pengecekan dan servis rutin.

Beberapa model yang nantinya akan dijual di antaranya adalah tipe Triumph Street Twin 2017, Bonneville 1200, Thruxton 1200R, dan Tiger 800 XC. Adapun diler utama berlokasi di wilayah strategis buat pemain motor gede, yaitu di Jl Kemang Raya no.19, Jakarta Selatan.

Buat merangkul pecinta motor Triumph, GAS juga siap rutin melakukan beberapa kegiatan seperti Friday Movie Night dan juga perayaan ulang tahun komunitas Riders Association of Triumph (RAT) yang kedua beberapa waktu lalu.

Kegiatan turing ini disebut merupakan bagian dari rangkaian acara menjelang Grand Launching Triumph Jakarta yang rencananya akan dilaksanakan pada Maret mendatang.

Honda Patenkan Superbike Mesin V4

Honda terus bergerak mencari celah pengembangan teknologi. Paling baru, diketahui bahwa produsen motor logo sayap itu mengembangkan superbike lagi dengan desain yang sudah dipatenkan.

Dari paten desain, superbike disinyalir menggunakan mesin V4 dan akan menjadi salah stau model flagship. Posisinya, akan berdiri di antara dua model flagship lain, yakni Honda Fireblade (CBR1000RR) dan Honda RC213V-S.

Pada deretan superbike, Honda memang belum punya model dengan konfigurasi mesin V4. Selama ini, CBR1000RR menggunakan mesin 4-silinder segaris.

Model bermesin V4 akan menggunakan layout knalpot yang berbeda dengan sepeda motor Honda lainnya. Juluran pipa yang mengalir dari silinder berpisah, lalu menyatu lagi di bagian bawah, mengalir ke bawah kaki kanan pembonceng.

Tenaga penggerak akan menjadi bagian dari sasis. Lalu, Honda V4 ini akan menerima jok single dan buntutnya mendapat lubang udara yang membantu aerodinamika lebih efisien. Pada bagian belakang mendapat semacam sayap untuk membantu mendapatkan downforce.

Superbike ini bakal dijual terbatas, tapi tidak akan seekslusif RC213V-S yang menjadi motor MotoGP versi produksi. Superbike V4 Honda ini kemungkinan bakal dijual pada 2018 sebagai model 2019.

BMW Tambah Produksi “Plug-in Hybrid” di Thailand

Produsen asal Jerman, BMW, bakal memperluas produksi mobil plug-in hybrid listrik-bensin di Thailand, menjadi empat model pada akhir tahun depan. BMW melihat pasar Thailand cukup potensial untuk dimasukkan mobil jenis ini.

Mengutip Nikkei, Senin (13/2/2017) pihak BMW mngatakan, ini masih sebagai langkah awal, sebelum produksi mobil yang sepenuhnya listrik, sebagai terobosan ke pasar negara berkembang, di ASEAN terutama.

Pabrik BMW terletak di Provinsi Rayong, 110km sebelah tenggara Bangkok, di mana sudah mulai merakit dua model plug-in, yakni 330E Luxury sedan dan sport utility vehicle (SUV) X5 xDrive40e, pada akhir 2016. Sementara komponen-komponen terpenting masih diimpor dari Jerman, penggerak dan baterai lithium-ion.

Stefan Teuchert, Presiden BMW Group Thailand mengatakan, fasilitas milik BMW ini, akan memproduksi hibrida plug-in dari lineup Seri 7 yang akan berjalan mulai tahun ini, diikuti oleh model Seri 5 yang lebih kecil, di 2018. Terlepas dari kendaraan sepenuhnya listrik, hibrida plug-in diklaim lebih cocok di Thailand, karena infrastruktur pengisian untuk mendukung model sepenuhnya listrik belum mapan.

Melihat pasar 2016 BMW di Thailand, volume penjualannya mengalami penurunan 10 persen, atau menjadi sekitar 8.000 kendaraan, dan hanya memberikan pangsa pasar 1 persen. Posisi BMW masih ada di belakang rekan Jerman-nya, Mercedes-Benz, yang juga ikut turun 8 persen, menjadi 12.000 unit. Melalui model plug-in hybrid ini, BMW berharap bisa mendapatkan growth penjualan mobil baru sampai 15 persen tahun ini.

Fasilitas pabrik BMW di Rayong, berdiri pada 2000, di mana saat ini mampu memproduksi 20.000 unit per tahun. BMW menginvestasikan total 2,6 miliar baht atau Rp 987,1 miliar sampai 2014. Pada akhir tahun ini, investasi kumulatif diperkirakan mencapai 4 miliar baht atau Rp Rp 1,51 triliun.